Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Breaking News
Trending Tags
Beranda » Nasional » Timur Tengah di Ambang Api Besar: Eskalasi, Hegemoni, dan Ujian Kedaulatan Regional Oleh Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)

Timur Tengah di Ambang Api Besar: Eskalasi, Hegemoni, dan Ujian Kedaulatan Regional Oleh Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Serangan terbuka yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menandai babak baru dalam arsitektur konflik Timur Tengah. Ini bukan lagi perang bayangan, bukan sekadar operasi intelijen terselubung atau serangan siber senyap.

Ini adalah konfrontasi terbuka yang secara langsung menyeret negara-negara Teluk seperti Qatar dan Bahrain—dua sekutu strategis Washington yang menjadi tuan rumah instalasi militer utama Amerika.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kawasan ini stabil, melainkan seberapa cepat ia akan terjerumus ke dalam perang regional yang lebih luas.

Dalam perspektif hukum internasional, serangan preventif terhadap fasilitas nuklir—tanpa mandat eksplisit Dewan Keamanan PBB—selalu berada dalam wilayah abu-abu yang problematik.

Dalih keamanan nasional tidak serta-merta membenarkan pelanggaran prinsip non-agresi sebagaimana ditegaskan dalam Piagam PBB.

Jika setiap negara merasa berhak menyerang berdasarkan asumsi ancaman masa depan, maka sistem internasional akan berubah menjadi arena hukum rimba.

Di sisi lain, respons Iran melalui peluncuran rudal dan drone turut memperluas spektrum konflik.

Ketika target mencakup aset Amerika di kawasan Teluk, risiko eskalasi meningkat tajam. Selat Hormuz—urat nadi distribusi energi global—kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Satu kesalahan kalkulasi saja dapat mengguncang pasar energi dunia, mempercepat inflasi global, dan menyeret ekonomi internasional ke jurang resesi baru.

Namun persoalan paling mendasar bukan sekadar soal militer, melainkan hegemoni dan kedaulatan. Selama puluhan tahun, Timur Tengah menjadi panggung proyeksi kekuatan eksternal. Negara-negara kawasan terjebak dalam orbit kepentingan geopolitik kekuatan besar.

Konflik Iran–Israel–Amerika Serikat adalah manifestasi paling nyata dari pertarungan hegemoni tersebut. Kawasan ini belum sepenuhnya diberi ruang untuk menyelesaikan problemnya secara mandiri.

Apakah Rusia dan Tiongkok akan turun tangan membela Iran? Secara militer langsung, kecil kemungkinannya. Rusia masih terikat di front Eropa Timur, sementara Tiongkok memprioritaskan stabilitas ekonomi dan keamanan jalur energi globalnya.

Dukungan diplomatik dan ekonomi mungkin diberikan, tetapi konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat berisiko membuka babak perang global—sesuatu yang bahkan Moskow dan Beijing berusaha hindari.

Dengan demikian, Iran menghadapi tekanan besar dengan kalkulasi rasional: melakukan pembalasan terukur tanpa memicu perang total.

Pola controlled escalation selama ini menjadi ciri konflik kawasan. Masalahnya, sejarah menunjukkan bahwa eskalasi terkendali kerap berubah menjadi perang terbuka akibat salah hitung, emosi politik, atau tekanan domestik.

Yang lebih memprihatinkan adalah fragmentasi dunia Arab sendiri. Sebagian negara Teluk memiliki hubungan keamanan erat dengan Washington, sementara sebagian lain berusaha menjaga jarak.

Dalam kondisi seperti ini, retorika mobilisasi ideologis justru kontraproduktif.  Yang dibutuhkan bukanlah eskalasi narasi, melainkan konsolidasi berbasis prinsip: kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian konflik melalui mekanisme regional.

Jika negara-negara Timur Tengah gagal membangun kerangka keamanan kolektif yang independen dari hegemoni eksternal, maka kawasan ini akan terus menjadi papan catur, bukan pemain utama.  Serangan demi serangan hanya akan memperdalam siklus kekerasan tanpa solusi struktural.

Eskalasi 28 Februari 2026 adalah alarm keras. Timur Tengah sedang diuji—bukan hanya oleh rudal dan drone, tetapi oleh kemampuannya membangun arsitektur perdamaian yang berdaulat.

Jika kawasan ini kembali terjerumus dalam perang besar, maka itu bukan semata akibat agresi satu pihak, melainkan kegagalan kolektif membangun sistem keamanan regional yang otonom dan kredibel.

Api telah menyala. Pertanyaannya: apakah para pemimpin kawasan akan memadamkannya melalui diplomasi, atau membiarkannya menjadi kebakaran geopolitik yang tak terkendali?

Sumber: ASH

Editor: Tim Redaksi tvkito.com

  • person
  • visibility 152
  • forum 0
Bagikan Threads

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Kedisiplinan  dan Profesionalisme, Batalyon B Pelopor  Gelar Latihan PBB Bersenjata

    Perkuat Kedisiplinan dan Profesionalisme, Batalyon B Pelopor Gelar Latihan PBB Bersenjata

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Junn Edy
    • visibility 36
    • 0Komentar

    LUBUKLINGGAU ,tvkito.com, Kamis  21/08/2025— Dalam rangka meningkatkan kedisiplinan serta memperkuat kesiapan operasional personel, Satuan Brimob Polda Sumatera Selatan Batalyon B Pelopor menggelar latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) bersenjata di Lapangan Apel Mako Batalyon B Pelopor, Lubuklinggau.   Latihan ini melibatkan seluruh personel dan difokuskan pada penguasaan gerakan dasar PBB bersenjata, baik dalam posisi diam maupun bergerak. […]

  • Aceng Syamsul Hadie Pertanyakan Keberlanjutan MBG, Soroti Ribuan Kasus Dugaan Keracunan

    Aceng Syamsul Hadie Pertanyakan Keberlanjutan MBG, Soroti Ribuan Kasus Dugaan Keracunan

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Junn Edy
    • visibility 68
    • 0Komentar

    JAKARTA – Polemik dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Sejumlah daerah dilaporkan mengalami insiden serupa, di antaranya Cianjur, Sukoharjo, Banggai, Gorontalo, Banjar (Kalsel), Kulon Progo, Sleman, Bandar Lampung, Lebong (Bengkulu), Semarang, Agam (Sumbar), Bandung Barat, hingga Sumedang. Berdasarkan informasi yang beredar dari data pemerintah dan JPPI, jumlah korban dugaan keracunan […]

  • Batalyon B Pelopor Lubuklinggau Gelar Apel Siaga, Tegaskan Komitmen Kesiapsiagaan 24 Jam

    Batalyon B Pelopor Lubuklinggau Gelar Apel Siaga, Tegaskan Komitmen Kesiapsiagaan 24 Jam

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle Junn Edy
    • visibility 42
    • 0Komentar

    LUBUKLINGGAU,tvkito.com,Sabtu 01/11/2025, – Satuan Brimob Polda Sumatera Selatan Batalyon B Pelopor menunjukkan dedikasi tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab dengan tetap melaksanakan apel siaga penuh pada hari Sabtu (01/11/2025). Kegiatan tersebut berlangsung di Markas Komando Batalyon di Jalan Lintas Sumatera, Lubuklinggau.   Apel siaga ini digelar untuk memastikan kesiapan operasional personel dan peralatan dalam menghadapi […]

  • Paripurna DPRD Mura, Dengarkan LKPJ Bupati Tahun 2023

    Paripurna DPRD Mura, Dengarkan LKPJ Bupati Tahun 2023

    • calendar_month Jumat, 29 Mar 2024
    • account_circle media.wajahnusantara@gmail.com
    • visibility 42
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar Rapat Paripurna dengan agenda mendengarkan penyampaian Laporan Kegiatan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Mura. Paripurna dipimpin langsung Ketua DPRD Mura, Azandri, Sabtu (29/3/2024). Dihadiri Kapolres Mura, Dandim 0406 MLM, Sekda, OPD serta Camat. Usai pembacaan LKPJ dilakukan penandatanganan penyerahan LKPJ antara Bupati Mura, Hj Ratna […]

  • JANGAN Terlalu Percaya pada Board of Peace ala Trump  Oleh: Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM  Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)

    JANGAN Terlalu Percaya pada Board of Peace ala Trump Oleh: Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Junn Edy
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Gagasan Board of Peace (BoP) yang dikaitkan dengan Donald Trump tidak boleh diterima begitu saja sebagai terobosan diplomatik. Negara-negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina perlu bersikap tegas agar retorika perdamaian tidak menutup mata terhadap realitas politik kekuasaan global. Rekam jejak kebijakan Trump di Timur Tengah bukanlah hal baru. Pendekatan unilateral yang ditempuh pada masanya dinilai […]

  • The Blood of Indonesian Soldiers in Lebanon  A Test of Indonesia’s Dignity on the World Stage  By Aceng Syamsul Hadie (ASH)

    The Blood of Indonesian Soldiers in Lebanon A Test of Indonesia’s Dignity on the World Stage By Aceng Syamsul Hadie (ASH)

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Junn Edy
    • visibility 25
    • 0Komentar

    JAKARTA — The deaths of three Indonesian National Armed Forces (TNI) soldiers during a peacekeeping mission in Lebanon are not merely tragic news. They represent a stark warning for Indonesia’s sovereignty and national dignity. Three soldiers lost their lives, while three others were injured. The tragedy is deeply heartbreaking—Indonesia’s sons fell under the banner of […]

expand_less