Aceng Syamsul Hadie (ASH): Ketika Timur Tengah Menjadi Arena Benturan Blok Global, Dunia Terancam Menuju Perang Besar Baru

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai telah melewati batas konflik regional biasa.
Serangan militer besar yang disebut menewaskan ribuan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, dianggap sebagai simbol eskalasi serius yang berpotensi menyeret dunia menuju benturan geopolitik global.
Situasi tersebut disoroti oleh Aceng Syamsul Hadie (ASH), Ketua Dewan Pembina Asosiasi Wartawan Internasional (ASWIN).
“Ketika Timur Tengah menjadi arena benturan blok global, tanpa kita sadari dunia bisa menuju perang dunia baru,” ujar ASH dalam pernyataannya di Jakarta.
Menurut ASH, pernyataan Presiden Donald Trump yang menuntut Iran “menyerah tanpa syarat” menunjukkan perubahan pendekatan dari diplomasi menuju tekanan politik yang keras.
Dalam sejarah hubungan internasional, tuntutan semacam ini sering kali menjadi sinyal awal eskalasi konflik yang lebih luas.
Bagi Teheran, tuntutan menyerah dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap kedaulatan nasional yang sulit diterima.
Timur Tengah Berpotensi Jadi Arena Pertarungan Blok Global
ASH menjelaskan bahwa konflik saat ini mulai bergerak menuju konfigurasi blok global.
Hal ini terlihat dari munculnya indikasi bahwa China mempertimbangkan dukungan finansial dan teknologi kepada Iran, sementara laporan lain menyebut adanya potensi bantuan intelijen dari Rusia.
“Timur Tengah sedang berubah menjadi arena pertarungan kekuatan global baru,” jelasnya.
Menurut ASH, kepentingan China dalam konflik tersebut bukan semata-mata ideologis, melainkan lebih didorong oleh kepentingan energi dan stabilitas jalur perdagangan.
Sebagai salah satu pembeli utama minyak Iran, Beijing memiliki kepentingan menjaga stabilitas kawasan Teluk.
Jalur energi melalui Selat Hormuz, kata dia, merupakan nadi penting bagi ekonomi Asia.
Jika jalur tersebut terganggu akibat konflik besar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Iran atau Amerika Serikat, tetapi juga mengguncang ekonomi global.
Namun demikian, ASH menilai dukungan China kemungkinan besar tidak akan berupa keterlibatan militer terbuka.
Beijing lebih cenderung menggunakan strategi tidak langsung seperti dukungan finansial, teknologi dual-use, serta perlindungan diplomatik di forum internasional.
Rusia Punya Kepentingan Geopolitik
Sementara itu, Rusia disebut melihat konflik ini dari perspektif yang berbeda.
Bagi Moskow, melemahnya pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah dapat menjadi keuntungan strategis.
Jika Iran mampu bertahan dari tekanan militer Barat, kredibilitas geopolitik Washington bisa mengalami pukulan besar.
“Karena itu, dugaan bantuan intelijen Rusia kepada Iran bukanlah sesuatu yang mengejutkan,” kata ASH.
Situasi tersebut, lanjutnya, menciptakan konfigurasi geopolitik yang berbahaya: Amerika Serikat dan Israel berada di satu sisi, sementara Iran berpotensi mendapatkan dukungan strategis dari Rusia dan China di sisi lain.
“Pola ini sangat mengingatkan pada dinamika perang blok dalam sejarah dunia,” ujarnya.
Risiko Eskalasi Global
ASH juga menyoroti lemahnya peran lembaga internasional dalam meredam konflik besar.
Menurutnya, United Nations semakin terlihat tidak berdaya ketika konflik melibatkan negara-negara adidaya.
Ketika kekuatan besar memutuskan menggunakan kekuatan militer secara sepihak, hukum internasional sering kali hanya menjadi retorika tanpa daya paksa.
Ia menilai dunia kini menghadapi tiga kemungkinan skenario jika eskalasi terus berlanjut, yaitu:
1. Perang regional berkepanjangan di Timur Tengah.
2. Perang proksi global dengan keterlibatan tidak langsung Rusia dan China.
3. Konflik berkembang menjadi perang blok global yang melibatkan kekuatan besar secara langsung.
“Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa perang dunia sering bermula dari konflik regional yang terlihat terbatas. Hari ini Timur Tengah kembali berada di titik rawan tersebut,” tegas ASH.
“Jika diplomasi terus dikalahkan oleh logika kekuatan militer, maka dunia bukan hanya menyaksikan eskalasi konflik, tetapi juga berjalan perlahan menuju babak baru konfrontasi global,” pungkasnya.
Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi
- person
- visibility 21
- forum 0


