BANJIR SUMATERA: KETIKA HUTAN DIJARAH, RAKYAT MENJADI KORBAN
- Nasional News Opini & Humaniora Peristiwa
- calendar_month Senin, 1 Des 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Puisi Teaterikal
Oleh: Kang Aceng Tea
Banjir di Sumatera…
bukan sekadar air yang meluap, bukan sekadar hujan yang turun dari langit.
Ini adalah bencana ekologis—bahkan kejahatan ekologis—
yang telah lama disiapkan oleh tangan‐tangan rakus dan baru kini menampakkan wajahnya yang paling kejam.
Lihatlah Jakarta…ketika banjir datang, yang hanyut adalah sampah plastik.
Namun di Sumatera…yang hanyut gelondongan kayu,
batang demi batang—seperti mayat-mayat hutan yang dikirim arus untuk bersaksi.
Inilah bukti paling telanjang bahwa hutan telah ditebang tanpa belas kasihan.
Bahwa di hulu sana, tempat air seharusnya dipeluk akar-akar,
kini hanya tersisa hamparan sawit, bukaan tambang, dan sisa penebangan yang dibiarkan membusuk.
Bukan lagi hutan…melainkan ladang industri rakus yang memeras bumi tanpa memikirkan hari esok.
Curah hujan tidak membawa gergaji.
Awan tidak pernah menebang pohon.
Iklim tidak pernah mengasah chainsaw.
Yang melakukan itu—adalah manusia.
Dan lebih menyedihkannya…sering kali mereka dilindungi izin, dilegalkan regulasi yang longgar, dibiarkan pengawasan negara yang lemah.
Setiap kayu yang hanyut adalah dokumen kegagalan.
Setiap rumah yang tenggelam adalah bukti pembiaran.
Dan setiap nyawa yang hilang adalah harga mahal yang dibayar rakyat atas kerakusan segelintir pihak yang tidak pernah kenyang mengunyah hutan.
Kita tidak boleh lagi menerima alasan-alasan klise: “curah hujan tinggi”… “anomali cuaca global”…
Semua itu hanya tirai yang menutupi kenyataan bahwa hutan Sumatera dihancurkan secara terstruktur, masif, dan berulang.
Negara tidak boleh kalah oleh mafia hutan.
Tidak boleh tunduk pada kepentingan ekonomi yang menggerus masa depan rakyat.
Tidak boleh diam ketika alam menjerit meminta keadilan.
Sumatera bukan sekadar tanah luas.
Ia adalah rumah bagi jutaan manusia.
Tetapi hari ini…rumah itu dilanda banjir,
bukan karena air, melainkan akibat keputusan salah yang menebangi hutan
tanpa memikirkan anak cucu kita.
Jika hari ini kita diam, jika hari ini kita tidak bersuara, maka banjir ini bukan yang terakhir.
Dan yang lebih mengerikan—kita sedang membiarkan Indonesia kehilangan salah satu pilar ekologisnya yang paling penting.
Banjir Sumatera bukan sekadar air yang meluap.
Ini adalah jeritan bumi yang sekarat.
Dan jika hutan sekarat…maka bangsa ini ikut sekarat. [JUN]
Penulis:
Sang Penyair Jalanan
dari Tatar Sunda
- person
- visibility 67
- forum 0


