Iran–Amerika di Ambang Konfrontasi: Diplomasi yang Membeku dan Dunia yang Terlalu Rawan untuk Salah Hitung Oleh Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)
- Nasional News Opini & Humaniora Politik
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta — Kebuntuan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat dinilai bukan sekadar episode rutin rivalitas panjang dua negara, melainkan sinyal memasuki fase ketegangan baru yang lebih berbahaya. Saat diplomasi membeku, ruang yang tersisa kerap diisi oleh kalkulasi militer.
Sejak Washington keluar dari kesepakatan nuklir era Barack Obama dan kembali menerapkan kebijakan tekanan maksimum di bawah Donald Trump, fondasi kepercayaan runtuh.
Teheran merasa dikhianati, sementara Washington menilai Iran terus memainkan ambiguitas nuklir.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, konsisten menolak tunduk pada tekanan Barat. Bagi Teheran, menyerah pada sanksi sama dengan membuka pintu intervensi.
Di sisi lain, Amerika memandang ambang senjata nuklir sebagai ancaman strategis terhadap arsitektur keamanan Timur Tengah dan kredibilitas globalnya.
Situasi semakin kompleks ketika latihan militer Rusia dan China di sekitar Selat Hormuz mengirim pesan simbolik bahwa Iran tidak sepenuhnya terisolasi.
Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia, tempat sekitar seperlima distribusi minyak global melintas.
Secara rasional, perang total dinilai bukan pilihan ideal bagi semua pihak. Namun sejarah mencatat, konflik besar sering lahir dari salah hitung dan eskalasi bertahap.
Serangan terbatas bisa memicu balasan asimetris dan menyeret aktor kawasan lain, termasuk Israel, serta mengganggu jalur energi global.
Kemungkinan Perang Dunia Ketiga dinilai kecil, namun risiko konflik regional dengan dampak global tetap nyata—terutama terhadap stabilitas ekonomi dan harga energi.
Kebuntuan ini pada akhirnya menjadi ujian bagi para pemimpin dunia: apakah diplomasi masih mampu mengendalikan ego geopolitik di tengah transisi tatanan global.
Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi
- person
- visibility 98
- forum 0


