Ramadhan: Sekolah Manajemen Diri dan Fondasi Kemenangan Sosial Oleh KH. Muhammad Abdan Syakuro, S.Ag.
- Agama Nasional News Pendidikan
- calendar_month Minggu, 15 Feb 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kepulauan Riau – Ramadhan kerap dipahami sebatas ritual tahunan yang berfokus pada ibadah personal seperti puasa, tarawih, dan zakat.
Padahal, Ramadhan sejatinya merupakan sekolah besar peradaban — sebuah sistem pendidikan spiritual dan sosial yang melatih manusia dalam mengelola diri, keluarga, hingga kehidupan bernegara.
Menurut KH. Muhammad Abdan Syakuro, S.Ag., Ketua MUI Kundur Barat di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan serius dalam manajemen keinginan.
Puasa dimulai sejak dini hari dengan niat dan imsak. Pada fase ini, manusia dilatih menahan kebutuhan paling dasar: makan, minum, dan syahwat. Inilah tahap fundamental pengendalian diri.
Keinginan yang tak terkendali sering menjadi sumber berbagai persoalan, mulai dari konflik sosial, keserakahan ekonomi, ketimpangan, hingga kerusakan lingkungan. Ramadhan hadir sebagai momentum refleksi untuk menundukkan hasrat di bawah kendali nilai dan kesadaran.
Momentum berbuka puasa juga mengandung pelajaran penting. Anjuran berbuka secara sederhana — dengan air dan makanan ringan seperti kurma — mengandung pesan moral tentang kesetaraan.
Dalam kondisi lapar dan dahaga, seluruh manusia berada pada posisi yang sama. Ramadhan menegaskan bahwa ketimpangan bukanlah kodrat, melainkan akibat kegagalan mengelola keinginan dan sumber daya.
Al-Qur’an memberikan ilustrasi historis melalui kisah pasukan Thalut. Saat diuji dengan sungai, hanya mereka yang mampu menahan diri dari minum berlebihan yang tetap kuat dan meraih kemenangan.
Prinsipnya jelas: kemenangan ditentukan oleh kemampuan mengendalikan diri, bukan oleh besarnya konsumsi. Nilai ini relevan bagi kehidupan pribadi maupun tata kelola negara.
Idul Fitri sebagai penutup Ramadhan bukan sekadar perayaan, tetapi simbol keberhasilan menaklukkan hawa nafsu dan berdamai dengan diri sendiri. Kemenangan sejati tidak diukur dari kelimpahan sumber daya, melainkan dari kemampuan mengelolanya secara adil, bijak, dan berkelanjutan.
Dalam konteks sosial dan politik, bangsa yang gagal mengendalikan keinginan elitnya berpotensi terjebak dalam krisis, meskipun memiliki kekayaan alam melimpah.
Ramadhan mengajarkan disiplin kolektif — puasa dijalankan serentak, dengan aturan waktu dan tujuan yang sama. Ini menjadi latihan sosial tentang kepatuhan pada kesepakatan bersama, yang merupakan fondasi penting bagi keadilan sosial dan tata kelola pemerintahan yang sehat.
Pada akhirnya, nilai tertinggi manusia bukan pada apa yang dimiliki, tetapi sejauh mana ia memberi manfaat bagi orang lain. Ramadhan, melalui puasa, menjadi jalan sunyi menuju kesadaran tersebut. [JUN].
- person
- visibility 128
- forum 0



