Asri Lambo: Banyuasin Diproyeksikan Jadi Pusat Industri Pakan dan Olahan Limbah Pertanian Terpadu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANYUASIN — Aktivis agraria dan lingkungan hidup, Muhammad Asri atau yang akrab disapa Asri Lambo, menyoroti besarnya potensi limbah pertanian di Sumatera Selatan, khususnya di wilayah Banyuasin, untuk dikembangkan menjadi industri hilirisasi terpadu berskala besar.
Menurut Asri, Banyuasin sebagai salah satu wilayah dengan lahan pertanian padi terluas di Indonesia, serta didukung perkebunan kelapa, sawit, dan sektor perikanan, memiliki peluang besar menjadi pusat pengolahan limbah pertanian terbesar di Indonesia.
“Potensi limbah kita sangat besar. Dari pertanian padi saja, limbah jerami bisa mencapai sekitar 500 ribu ton per panen.
Dari kelapa ada sabut kelapa sekitar 120 ribu ton per panen. Belum lagi limbah perikanan seperti udang dan ikan, serta limbah organik lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dengan volume bahan baku sebesar itu, Banyuasin sangat layak dibangun kawasan industri pengolahan limbah terpadu yang mampu menghasilkan berbagai produk turunan seperti pakan ternak, pupuk, mebel, hingga produk ramah lingkungan lainnya.
Namun demikian, menurutnya, pengembangan tersebut sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, teknologi mesin, serta sistem digitalisasi produksi agar limbah yang selama ini terbuang dapat diubah menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual.
“Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya bernilai ekonomis, tetapi juga berdampak langsung pada pelestarian lingkungan hidup, mengurangi limbah, dan mendukung program pembangunan ramah lingkungan yang menjadi prioritas nasional maupun global,” katanya.
Asri yang juga merupakan tenaga ahli Bupati Banyuasin menambahkan, pengembangan industri ini diharapkan dapat melibatkan masyarakat dan pengusaha lokal dengan dukungan permodalan yang kuat, sehingga membuka sumber pendapatan baru serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Konsep pusat industri pengolahan limbah pertanian terpadu sendiri berfokus pada konversi biomassa — seperti jerami, pelepah sawit, sabut kelapa, limbah ikan dan udang, serta kotoran ternak — menjadi produk bernilai ekonomis seperti kompos, biogas, dan energi terbarukan melalui sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Sebagai contoh, ia menyebut pemanfaatan jerami padi di Thailand yang kini banyak diolah menjadi produk ramah lingkungan, seperti kertas biodegradable, kemasan makanan, serta peralatan makan pengganti plastik.(JUN).
- person
- visibility 94
- forum 0



