BENGKULU, TVKITO.COM — Persoalan antara tiga guru SDIT Rabbani, Tita, Elsinta, dan Ririn, dengan Yayasan Ma’had Rabbani Bengkulu akhirnya berakhir damai. Pertemuan mediasi yang berlangsung di Kantor Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bengkulu, Rabu (16/9/2026), ditutup dengan suasana penuh kekeluargaan dan saling memaafkan.
Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut menjadi ruang bagi kedua belah pihak untuk menyampaikan pandangan sekaligus mencari penyelesaian atas persoalan yang sebelumnya terjadi.
Pimpinan Yayasan Ma’had Rabbani, Ustadz Syamlan, hadir langsung dalam proses mediasi bersama pihak terkait. Dialog berlangsung terbuka dan tenang dengan mengedepankan musyawarah serta upaya mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.
Hasilnya, persoalan tersebut berhasil diselesaikan secara damai. Ketiga guru dan pihak yayasan saling bermaafan serta sepakat mengakhiri persoalan dengan semangat saling menghargai dan tetap menjaga hubungan baik.
“Alhamdulillah, persoalan selesai. Kita saling damai,” kata Ustadz Syamlan kepada awak media usai keluar dari ruang mediasi.
Utamakan Perdamaian dan Silaturahmi
Ketika ditanya mengenai nilai pesangon yang diberikan kepada ketiga guru tersebut, Ustadz Syamlan memilih menempatkan perdamaian dan silaturahmi sebagai hal yang lebih utama.
“Tidak terlalu penting nilai materi itu. Yang penting dan lebih berharga adalah damai dan tetap terjalinnya silaturahmi,” ujarnya.
Menurutnya, penyelesaian sebuah persoalan tidak semestinya hanya dipandang dari sisi materi maupun mengenai siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Lebih dari itu, kata dia, nilai persaudaraan dan kemaslahatan bersama tetap harus dijaga, terlebih persoalan tersebut berkaitan dengan lingkungan pendidikan.
Ia pun mengajak seluruh pihak menjadikan apa yang telah terjadi sebagai pelajaran untuk kemudian kembali bersama-sama menebarkan kebaikan melalui dunia pendidikan.
“Marilah kita saling bantu-membantu menebar kebaikan, terutama dalam pendidikan demi kemajuan bangsa dan negara, wabilkhusus Bengkulu,” tuturnya.
Rabbani, Lahir dari Bengkulu dan Terus Berkembang
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Syamlan juga menjelaskan perjalanan Yayasan Ma’had Rabbani yang menurutnya memiliki sejarah panjang di Bengkulu.
“Rabbani ini bukan saya yang mendirikan. Rabbani ini sudah ada sebelum saya datang di Bengkulu. Pendirinya putri asli Bengkulu, alumni SMAN 5,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan Rabbani tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat Bengkulu dalam membangun dunia pendidikan.
“Rabbani ini benar-benar aset asli Bengkulu,” katanya.
Menurut Ustadz Syamlan, Rabbani pada awalnya bermula dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Pada masa awal tersebut, para guru bahkan belum mendapatkan bayaran.
Namun melalui perjalanan panjang dan kerja bersama, lembaga pendidikan tersebut terus berkembang hingga kini menaungi sejumlah satuan pendidikan, mulai dari TK Rabbani, SDIT Rabbani, SMPIT Rabbani, SMAIT Rabbani hingga PPIIT Rabbani.
Saat ini, kata dia, keluarga besar Rabbani memiliki sekitar 150 guru yang seluruhnya mendapatkan penghasilan.
“Sekarang ada TK Rabbani, SDIT Rabbani, SMPIT Rabbani, SMAIT Rabbani dan PPIIT Rabbani, dengan jumlah guru sekitar 150 orang yang semuanya digaji dengan cukup layak,” jelasnya.
Menutup Persoalan dengan Semangat Kebersamaan
Penyelesaian melalui jalur mediasi tersebut menjadi momentum bagi kedua belah pihak untuk menutup persoalan dan menatap masa depan dengan semangat kebersamaan.
Bagi keluarga besar Rabbani, persoalan yang telah terjadi diharapkan tidak menghapus hubungan baik maupun semangat untuk terus membangun dunia pendidikan.
“Persoalan boleh datang, tetapi persaudaraan jangan sampai hilang.”
Yayasan Ma’had Rabbani juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Ketenagakerjaan Kota Bengkulu yang telah memfasilitasi proses pertemuan serta membuka ruang dialog bagi kedua belah pihak.
Ustadz Syamlan berharap penyelesaian tersebut menjadi awal yang baik bagi semua pihak untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang.
“Yang telah berlalu menjadi pelajaran. Yang tersisa kita rawat sebagai persaudaraan. Dan yang akan datang kita bangun dengan kebaikan,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa perjalanan Rabbani merupakan bagian dari perjalanan pendidikan di Bengkulu yang perlu dijaga dan dikembangkan bersama.
“Rabbani yang besar ini adalah karya dan aset Bengkulu asli,” pungkas Ustadz Syamlan.
Pewarta: Tim Feronike (Mimi)













