Tulisan “Megalomania dan Panggung Kekuasaan” dari Prof. Dr. Yoyon Suryono, M.S.
- Nasional News Opini & Humaniora Politik
- calendar_month 16 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ini kuat secara reflektif dan konseptual. Ia tidak menyerang figur tertentu, tetapi mengajak publik melihat relasi antara psikologi kekuasaan dan ketahanan sistem demokrasi.
Berikut beberapa poin analisis yang bisa memperkaya perspektif:
1️⃣ Megalomania sebagai Metafora Politik
Istilah megalomania memang berasal dari psikologi klinis, namun dalam konteks politik ia lebih tepat dipahami sebagai metafora tentang godaan kebesaran diri dalam jabatan tinggi.
Dalam sejarah global, fenomena ini kerap dikaitkan dengan figur-figur seperti:
Napoleon Bonaparte
Adolf Hitler
Benito Mussolini
Namun dalam konteks demokrasi modern, bentuknya jauh lebih halus: pencitraan berlebihan, personalisasi kebijakan, hingga pembangunan simbol monumental yang melekat pada satu nama.
2️⃣ Demokrasi vs Personalisasi Kekuasaan
Tulisan ini menekankan pertanyaan kunci:
Apakah negara sedang membangun institusi, atau membesarkan figur?
Demokrasi yang sehat seharusnya:
Menguatkan lembaga, bukan ketergantungan pada tokoh.
Membuka kritik, bukan mengurungnya dalam “efek gema”.
Mengedepankan partisipasi publik, bukan sekadar seremoni.
Sejarah Indonesia sendiri memberi pelajaran penting tentang bagaimana kultus figur dapat melemahkan sistem, baik pada era Soekarno dengan konsep “Pemimpin Besar Revolusi”, maupun pada masa Soeharto dengan sentralisasi kekuasaan Orde Baru.
3️⃣ Era Media Sosial dan “Efek Gema”
Yang menarik, tulisan ini juga menyentuh konteks kekinian: algoritma media sosial memperkuat citra, bukan kritik.
Dalam era digital:
Tim komunikasi bisa membangun narasi heroik 24 jam. Kritik cepat diberi label negatif.
Simbol lebih viral daripada substansi kebijakan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat dalam kepemimpinan global seperti Donald Trump atau Vladimir Putin, di mana citra personal sering menjadi pusat narasi politik.
4️⃣ Inti Pertanyaan Moral-Politik
Tulisan ini bijak karena tidak menuduh siapa pun.
Ia mengarahkan fokus pada kekuatan sistem.
Pertanyaan akhirnya bukan:
Siapa yang megalomania?
Melainkan:
Apakah sistem cukup kuat membatasi kecenderungan itu?
Karena dalam demokrasi, yang seharusnya abadi bukanlah figur, melainkan institusi.
- person
- visibility 13
- forum 0



