Iran Pilih Turki dan Pakistan Jadi Mediator, Peran Indonesia Dipertanyakan

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
IRAN, – Keputusan Iran menunjuk Turki dan Pakistan sebagai mediator di tengah meningkatnya ketegangan dengan Barat memicu pertanyaan tentang posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik global.
Di tengah dinamika konflik antara Iran dan blok Barat yang sebelumnya dipimpin Donald Trump, langkah Teheran memilih Turki dan Pakistan sebagai mediator dinilai bukan sekadar keputusan diplomatik biasa, melainkan cerminan peta kekuatan global saat ini.
Pengamat menilai, pemilihan kedua negara tersebut didasarkan pada faktor kedekatan geografis, kekuatan militer, serta pengaruh strategis yang dimiliki di kawasan konflik.
Turki, sebagai anggota NATO, memiliki posisi unik karena tetap menjaga hubungan dengan berbagai pihak, termasuk Rusia.
Sementara Pakistan dinilai memiliki kedekatan historis dan strategis dengan Iran serta status sebagai negara berkekuatan nuklir.
Di sisi lain, Indonesia—yang dipimpin Prabowo Subianto—sebelumnya menyatakan kesiapan untuk berperan sebagai mediator konflik global.
Namun hingga kini, peran tersebut belum mendapat respon konkret dari pihak-pihak yang terlibat konflik.
Sejumlah analis menilai, Indonesia masih mengandalkan pendekatan diplomasi normatif tanpa diimbangi dengan kekuatan strategis yang cukup untuk mempengaruhi dinamika konflik.
Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi geopolitiknya agar tidak hanya didengar, tetapi juga diperhitungkan dalam forum internasional.
Penulis,
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)
(Jun).
- person
- visibility 16
- forum 0



